Header Ads

Perkembangan Teknologi di Masyarakat - Pemberdayaan Perempuan Melalui E-commerce

Pemberdayaan Perempuan Melalui E-commerce




 Pemberdayaan Perempuan Melalui E-commerce - Banyak orang yang berpendapat bahwa saat ini masih lekat terjadi kesenjangan gender antara laki-laki dan perempuan, khususnya dalam lingkup keluarga, yaitu antara kekuatan suami dan istri.

Nyatanya memang urusan itu masih menjadi persepsi umum yang terbilang terus populer. Hal ini bisa terlihat dari sebuah penelitian global yang dilaksanakan oleh Hakuhodo, perusahaan creative advertising.

“Masyarakat memandang peran laki-laki jauh lebih urgen daripada perempuan. Di Indonesia, power perception pada suami 50 persen, sedangkan istri 2 persen. Sedangkan 48 persen telah ada kesetaraan antara suami dan istri. Di Asean, Indonesia bahkan masih kalah dibanding Singapura, Vietnam, dan Thailand,” tutur Devi Attamimi, Executive Director of Strategic Planning Hakuhodo, baru-baru ini.

Namun, masih mengacu pada penelitian tersebut, Devi menyatakan bahwa persepsi tersebut bahwasannya tidak sepenuhnya benar. Pasalnya, urusan ini sehubungan dengan penemuan baru bahwa tipe keluarga beberapa besar di Indonesia ialah task based sharing.

Tipe ini mengunggulkan pembagian tugas antara suami dan istri sehingga setiap punya peran dan kekuatan yang setara. Riset tersebut mengindikasikan bahwa semua perempuan atau istri di tipe family ini mempunyai pendapatan dengan berbisnis.

Sebanyak 85 persen diantaranya mendapat  pendapatan dari berbisnis online lewat e-commerce. Jadi, dapat dibilang malah ada gap antara persepsi masyarakat dengan apa yang sebetulnya terjadi di kehidupan lokasi tinggal tangga.

“Yang namanya empowerment wanita di Indonesia sudah lumayan tinggi, khususnya di lingkungan berumah tangga,” katanya.

Setidaknya terdapat dua urusan yang mendorong kenyataan tersebut. Pertama, sebab perkembangan teknologi yang menolong menampik persepsi mengenai keterbatasan wanita dalam berekspresi dan berkarya. Kedua ialah karena saat ini semakin tidak sedikit perempuan yang mempunyai pendapatan.

Lebih lanjut, Devi menjelaskan, pemberdayaan wanita memang tidak terlepas dari kehadiran e-commerce. “E-commerce kini benar-benar menjadi suatu powerfull medium untuk perempuan guna empowerment. Mereka [perempuan] menjadi merasa mempunyai peran yang pun besar di keluarganya,” jelasnya.

Dalam peluang yang sama, Tika Latifani Mulya sebagai wanita yang pun seorang Vice President Brand Elzatta Hijab sependapat dengan Devi. Sebagai pebisnis modest wear, dia mengaku sekarang sangat tidak sedikit perempuan Indonesia yang terjun di dunia bisnis online, laksana bisnis hijab.

“Pasar hijab semakin besar sebab perempuan-perempuan diberdayakan. Itu positif. Semakin tidak sedikit orang yang terjun di bisnis itu, marketnya paling banyak,” tambahnya.

Menurutnya, bahkan saat ini ibu-ibu yang melulu berada di dalam lokasi tinggal dengan memakai daster dapat menjadi seorang milyader sebab berbisnis online.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.