Header Ads

Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi China

Strategi 3 Arah Menyikapi Perang Dagang China


Perkembangan Teknologi China - Tidak tercapainya kesepakatan untuk menuntaskan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China pada pekan lalu sebetulnya dapat diperkirakan, walaupun tidak sedikit yang bercita-cita akan terdapat kesepakatan “sementara”.

Sesungguhnya perang dagang melulu symptom dari isu yang lebih mendalam yang perlu anda simak untuk mengetahui “new normal” perniagaan dunia.

Sudah tidak sedikit yang ditulis mengenai akibat perang dagang terhadap Indonesia dan tidak cukup lebih kesimpulannya ialah sebagai berikut.

Pertama, akibat langsung dari pengenaan bea masuk terhadap perniagaan AS dan China tidak besar terhadap Indonesia.

Dari segi potensi positif, Indonesia juga diduga tidak mendapat tidak sedikit manfaat dari pergantian perdagangan dan relokasi investasi dari China.

Yang lebih tidak sedikit memperoleh ­­keuntungan ialah negara-negara laksana Vietnam, dan terdapat pula kaitannya dengan tidak cukup kondusifnya iklim investasi di Indonesia berhubungan dengan ketentuan tenaga kerja dan infrastruktur.

Kedua, akibat negatif terhadap Indonesia dari perang dagang akan dialami dari melambatnya perkembangan China, yang bahwasannya sudah terlihat semenjak krisis global dengan penurunan permintaan dan harga komoditas.

Perubahan struktural China telah berjalan sejumlah tahun terakhir dan perang dagang diduga memengaruhi pertumbuhan, baik China dan AS, ekonomi dunia dan perniagaan global.

Prediksi seluruh lembaga internasional mengambarkan risiko ketidakpastian perniagaan dan iklim investasi sebagai urusan yang akan menciptakan ekonomi dunia 2019 tetap lambat.

Sejogyanya anda tidak saja melihat akibat perang dagang, namun lebih dalam untuk implikasi yang lebih luas supaya bisa mengerjakan antisipasi.

Perang dagang ialah “symptom” atau akibat yang kelihatan, dari serangkaian isu yang lebih mendalam berhubungan dengan timbulnya China sebagai kekuatan ekonomi dan teknologi dunia melalui teknik yang dirasakan tidak cocok dengan prinsip yang adil, kompetisi yang sehat, dan transparan.

Dalam politik AS, terdapat kesepakatan dari kedua partai politik tentang hal ini sampai-sampai isu terhadap China tidak akan berlalu dengan kesepakatan tentang bea masuk yang dijangkau ataupun dengan berakhirnya masa jabatan Presiden Donald Trump.

Apa yang terjadi di AS ialah beralihnya kekuatan kumpulan internationalist yang sekitar ini mewarnai kepandaian AS dalam tatanan international economic governance, yaitu, supaya China menjadi negara yang bertanggung jawab sebagai peserta dalam ekonomi global, AS lebih baik merangkul negara tersebut untuk mengekor aturan main perniagaan internasional yang ada.

Dengan demikian, sesudah berproses sekitar 14 tahun dan mengerjakan sejumlah reformasi, China masuk menjadi anggota World Trade Organization (WTO).

Dalam era Trump, yang terjadi ialah kelompok internationalist maupun perusahaan-perusahaan multinasional AS yang mendapat  keuntungan dari perniagaan internasional dan GVC, kalah suara dan pengaruh dari pihak yang anti-China dan secara ideologis menyerahkan pengaruh, laksana penasihat Presiden Trump, Steve Bannon, yang memang tidak percaya bahwa perniagaan internasional menguntungkan AS.

Posisi yang berlaku sekarang ialah bahwa perilaku China tidak bisa didisiplinkan dengan aturan main WTO yang terdapat dan bahwa WTO sekitar ini tidak menguntungkan AS.

Oleh sebab itu, AS mesti beraksi secara unilateral dan berubah sikap dari di antara pemimpin sistem multilateral, menjadi ancaman terbesar dari sistem multilateral.

Apa saja yang menjadi isu dan dipersoalkan oleh AS tentang China? Secara ringkas, berhubungan perlindungan dan penerapan hukum atas langgaran terhadap HAKI (Hak Kekayaan Intelektual), pemaksaan guna transfer teknologi oleh perusahaan yang investasi di China, subsidi dan perlakukan preferensi untuk perusahaan pelat merah China, subsidi untuk pertumbuhan industri dan teknologi yang sedang digalakkan di China (Made in China 2025), serta manipulasi mata duit yuan (currency manipulation).

Semua urusan itu yang disinyalir terdapat dalam kesepakatan antara AS dan China, kesudahannya gagal sebab AS merasa janji China untuk mengolah hal-hal itu tidak mengikat.

Bahkan, pengakuan Presiden Xi Jingping pada peluang Belt and Road Forum di Beijing pada 26 April lalu, bahwa China akan mengerjakan reformasi lengkap di lima isu tersebut, pun tak dirasakan serius.

Di luar pertumbuhan perang dagang, terdapat hal beda lagi yang mesti anda simak sebagai sikap AS, yakni pendekatan “carrot dan stick” secara unilateral, yakni bagaimana “carrot” atau hadiah yang diserahkan seperti kemudahan GSP (sistem preferensi bea masuk yang lebih rendah) yang dikaitkan untuk “stick” atau desakan untuk merubah ketentuan atau undang-undang yang menguntungkan AS (perusahaan AS).

Hal ini dirasakan India dengan ancaman penarikan GSP sebagai retaliasi terhadap rencana India mendongkrak bea masuk produk nilai tinggi dari AS, serta pesan yang tersirat tentang ketentuan baru di bidang e-commerce yang dirasakan merugikan perusahaan AS.

Indonesia pun sedang menghadapi urusan yang sama bersangkutan kemudahan GSP dari AS senilai US$1,9 miliar dengan desakan untuk antara lain mengeluarkan segera perubahan ketentuan bersangkutan dengan larangan impor hortikultura dan daging, serta perubahan kepandaian bersangkutan lokalisasi data server.

Kerugian terbesar dari perang dagang ialah ketidakpastian perniagaan dunia yang timbul dalam suasana Indonesia perlu penganekaragaman ekspor barang dan jasa-jasa, serta menambah daya saing dan investasi yang bisa mendorong penambahan produktivitas di Indonesia.

Yang dihadapi ialah tekanan dan perbuatan unilateral atau sepihak dan posisi bargaining position Indonesia yang lemah dalam menghadapinya.

Seharusnya Indonesia menyikapi seluruh ini dengan strategi tiga arah dan mengerjakan persiapan posisi yang powerful dan komprehensif serta tetap memajukan kepentingan bangsa.

Pertama, mengerjakan reformasi yang dapat unik investasi tidak hanya untuk relokasi, tetapi supaya Indonesia masuk dalam kancah evolusi struktur tatanan perniagaan dunia yang bakal berkembang ke depan.

Reformasi itu dilaksanakan di bidang tenaga kerja, infratruktur, ongkos untuk berbisnis, dan iklim investasi yang tentu dan transparan. Kita perlu mengerjakan reformasi cocok dengan kebutuhan kita, tidak sebab ada desakan dan tekanan unilateral dari pihak AS—China pun mengerjakan hal tersebut.

Namun, anda perlu pun menyimak sebanyak isu yang diusung AS terhadap China sebab isu yang sama pun akan memengaruhi desakan unilateral yang dapat juga dikatakan ke Indonesia.

Kedua, saya dan anda butuh aliansi dengan partner dagang beda dan mendorong akses ke pasar beda di luar AS dan kita pun perlu memiliki hubungan yang berimbang dengan China. Hal tersebut berhubungan dengan perjanjian-perjanjian internasional laksana di area Asia Timur serta bilateral dengan partner besar laksana Uni Eropa. Kita perlu mengawal hubungan dan bermitra dengan China supaya memperoleh saling guna (win-win).

Ketiga, anda berkepentingan supaya sistem multilateral di bawah naungan WTO tetap berlangsung. Kita berkepentingan bahwa isu-isu yang dinamakan oleh AS sebagai masalah mereka dengan China, dapat ditamatkan dengan perundingan multilateral dan tidak ditamatkan secara bilateral atau unilateral dengan kaca mata deviden dari AS.

Jika tersebut dilakukan, akan terbuat aturan main baru di luar sistem dan pada saatnya anda menghadapi isu yang sama dengan AS, kita melulu dapat menerima situasi yang ditentukan oleh AS dan ruang gerak guna negosiasi menjadi paling sempit.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.