Header Ads

Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Audio Video

Hasil gambar untuk whatsapp
Foto : WhatsApp



Apa Itu Early adopter?

Perkembangan Teknologi | Kehadiran software perpesanan Whatsapp sudah melahirkan format saluran komunikasi baru untuk masyarakat. Whatsapp menjadi salah satu software yang sering dipakai masyarakat guna bertukar informasi mulai dari sekadar obrolan ringan sampai diskursus sekian banyak  topik lainnya. Jika sebelumnya asupan informasi masyarakat masih paling bergantung pada headline surat kabar, radio, dan tayangan televisi, sekarang Whatsapp sudah menjadi pilihan masyarakat dalam mengisi kebutuhannya bakal informasi. 

Berdasarkan keterangan dari survei yang dilaksanakan oleh HootSuite, pemakai aktif Whatsapp di Indonesia per 2019 telah menjangkau angka 83 persen. Jika dikaitkan dengan pertumbuhan infrastruktur informasi dan komunikasi yang memadai, seiring waktu, pemakai Whatsapp di Indonesia bisa meningkat banyak.


Sejak didirikan oleh Brian Acton dan Jan Koum pada 2009, popularitas Whatsapp memang melaju pesat. Kehadirannya dapat menggeser pemakaian software perpesanan sejenis laksana Blackberry Messenger atau layanan pesan singkat berbasis perlengkapan nirkabel, SMS. 

Ketersediaan fitur yang menyeluruh membuat Whatsapp lebih gampang diterima oleh masyarakat. Paling tidak terdapat 6 jenis konten yang dapat dikirim melewati Whatsapp yakni, teks, foto, video, audio, lokasi, dan kontak. Penggunanya pun disediakan dua jenis drainase interaksi, melewati jalur individu dan grup.

Hanya saja inovasi teknologi dalam peradaban insan selalu menghadirkan dua sisi, positif dan negatif. Hal ini pun yang terjadi pada Whatsapp. Pengguna sudah memanfaatkan Whastapp sebagai ruang publik yang semakin luas, mengakomodasi keperluan lain di luar interaksi interpersonal. 

Ketersediaan fitur yang menyeluruh telah berlangsung seiring dengan kemauan pemakai dalam memanfaatkan Whatsapp guna menyebarkan ide-ide yang dapat mengganti preferensi masyarakat. Apalagi andai bersangkutan dengan narasi politik, Whatsapp sudah menjadi panggung yang memadai untuk politisi guna menyampaikan usulan yang berimplikasi pada evolusi sikap atau perilaku penerima pesannya.


Ketika kontestasi dilangsungkan semakin tajam, narasi yang beredar juga menjadi kian variatif. Fakta dan kabar bohong (hoaks) sudah bercampur menjadi satu. Hal ini pun yang dirasakan oleh media sosial sejenis laksana Facebook, Twitter, dan lainnya. Berdasarkan survei yang dilaksanakan oleh Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), terdapat 7 ragam format hoaks yang beredar di drainase ini. Yakni, tulisan, potret editan, potret dengan caption palsu, video editan (dubbing palsu), video yang dipotong-potong cocok kebutuhan, video dengan caption palsu, serta berita, foto, atau video lama yang di-posting kembali.

Early Adopter

Adanya aneka persebaran format hoaks tersebut tidak terlepas dari pergeseran peran pemakai yang tidak lagi sebagai konsumen informasi, namun juga dapat menjadi produsen. Proses oper-mengoper konten itu menjadi semakin masif dan cepat. Verifikator hoaks tidak jarang kali kalah start dengan persebarannya yang lebih dulu viral. Lambat laun, apa yang tersebar tersebut dapat dirasakan sebagai cerminan utuh yang terjadi di luar realitas Whatsapp, lagipula jika penerima pesannya ialah early adopter.

Tipologi ini ingin lebih lamban dalam mengadaptasi inovasi teknologi informasi dan komunikasi. Apalagi andai tidak didukung dengan pengetahuan mumpuni. Early adopter bakal mereduksi informasi tanpa melakukan perbandingan yang maksimal. Mereka belum mengetahui bagaimana terbentuknya realitas sosial. Mereka bahkan belum menyadari bahwa tidak seluruh kehidupan sosial dapat diamati melewati Whatsapp.

Kondisi berikut yang disadari oleh produsen hoaks. Mereka mendorong kesadaran beraksi early adopter guna ikut berkontribusi menyebarkan hoaks tanpa literasi yang memadai. Bahkan, secara tidak langsung early adopter ini bakal terposisikan sebagai garda terdepan untuk mengerjakan manuver negosiatif dalam rangka menguatkan eksistensi hoaks sebagai informasi yang benar.

Kedaulatan Informasi 

Hanya saja anda tidak boleh pesimis menyikapi situasi tersebut. Percayalah, semakin tidak sedikit pelontar hoaks bakal mendorong kemunculan verifikator hoaks yang pun tidak sedikit, baik mempunyai sifat mandiri atau lembaga. Meski mesti diketahui, eksistensi verifikator hoaks ini pun sedang dilemahkan dengan narasi keberpihakan atau bayaran. Bahkan pelemahannya telah mulai menyasar pada diskursus hoaks. Seringkali informasi yang diklarifikasikan oleh verifikator diputarbalikkan sebagai format hoaks tersebut sendiri. Tujuannya ialah agar arus informasi yang beredar di saluran software perpesanan dan semacamnya tetap didominasi oleh format realitas yang disuguhkan oleh pelontar hoaks.

Hal yang tidak disadari ialah jika situasi tersebut memburuk dan semakin memberikan akibat destruktif di masyarakat, maka bakal ada potensi kedaulatan informasi yang dapat hilang. Pada kesudahannya pembatasan drainase komunikasi dapat menjadi konsekuensi pahit yang mesti diterima bersama. Jika ini hingga terjadi, pasti akan terjadi dekadensi dalam kemajuan masyarakat kita. Akses informasi menjadi terbatas, menciptakan kita terpencil dengan kehidupan luar, terbelakang jauh di belakang.

Kesadaran kolektif tentang potensi itu perlu di bina bersama. Sebijaknya, pemakaian hoaks bukanlah satu-satunya teknik yang dapat dilakukan untuk mengolah pandangan masyarakat. Masih tidak sedikit cara beda yang dapat digunakan tanpa mesti memberikan akibat destruktif di masyarakat. Hoaks melulu akan mencetuskan kebencian. Dan ingatlah, walau di tahap mula early adopter melulu mampu mengkonstruksi pesan Whatsapp melewati sudut pandang yang ditunjukkan oleh pelontar hoaks, lambat laun mereka bakal menyadari bahwa realitas adalahproduk manusia.

Ketika tersebut terjadi, pandangan mereka bakal menjadi semakin objektif. Mereka akan dapat menempatkan diri dalam posisi berdikari dari desakan informasi yang diaksesnya. Harapannya, proses itu dapat lebih cepat dirasakan oleh early adopter sampai-sampai nantinya mereka dapat menjadi unsur dalam melaksanakan tanggung jawab bersama, mewariskan generasi mendatang dengan informasi yang bebas hoaks. Terakhir, andai sekiranya anda mendapati informasi, apa yang disebutkan oleh Richard M. Ketchum (2004) mungkin dapat menjadi acuan, "Bagaimanapun edukasi formal yang diperoleh oleh seseorang, ia mesti membaca, meneliti, mendengarkan, berpikir, dan berdiskusi. Mendengarkan argumen pihak beda adalahbagian dari kewajibannya."

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.