Header Ads

Perkembangan Teknologi - Teknologi Militer China Adalah Hasil Curian

Teknologi Militer China Adalah Hasil Curian


Teknologi Militer China Adalah Hasil Curian - China terus membina militernya guna berubah dari kekuatan militer regional menjadi kekuatan militer “kelas dunia,” mengerjakan investasi besar-besaran dalam modernisasi dan memperluas pengaruh globalnya, menurut keterangan dari laporan Pentagon baru yang diluncurkan pada hari Kamis (2/5). Laporan itu menyoroti bagaimana China bergegas mengarah ke tujuannya tersebut dengan memakai teknik rahasia untuk menculik teknologi militer asing dan “melompati” fase pengembangan sistem senjata kompleks.

China menggunakan sekian banyak  cara guna mendapatkan teknologi militer ini termasuk pemakaian operasi pengaruh terhadap individu, bisnis, organisasi media, lembaga akademik dan komunitas lainnya.Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, laporan mandat kongres menilai pertumbuhan militer dan ketenteraman China dan bagaimana pertumbuhan itu sesuai dengan strategi perkembangan jangka panjang negara di distrik Pasifik. Itu tergolong terus memproyeksikan kekuatan militernya di Laut China Selatan―di mana pada tahun 2018 China menanam rudal jelajah anti-kapal dan rudal darat-ke-udara jarak jauh di Kepulauan Spratly yang disengketakan―serta konsentrasi China pada Taiwan, yang oleh pemerintah China dirasakan sebagai provinsi yang mengasingkan diri.

Tetapi akuisisi ilegal teknologi militer asing dan pemakaian ganda China yang dicerminkan oleh laporan itu mempunyai potensi “untuk menurunkan kelebihan operasional dan teknologi inti AS” di distrik tersebut.

Berdasarkan keterangan dari laporan itu, China menggunakan sejumlah alat guna mendapatkan akses ke teknologi-teknologi tersebut termasuk “investasi langsung asing yang ditargetkan, pencopetan siber, dan pemerasan akses penduduk negara China swasta” ke teknologi ini, serta memanfaatkan layanan intelijen, intrusi komputer, dan pendekatan ilegal lainnya.”

Pada tahun 2018, China menggunakan kenangan akses random yang dinamis, teknologi penerbangan, dan teknologi perang anti-kapal selam untuk mendapat  jenis perlengkapan sensitif, pemakaian ganda, atau ruang belajar militer dari Amerika Serikat, kata laporan itu.

Ini ialah persimpangan teknologi Amerika dan militer China yang menjadi perhatian semua pejabat tinggi Pentagon dan baru-baru ini unik perhatian Presiden Donald Trump.

Menyusul protes dari sejumlah karyawan, Google menyelesaikan kerjasamanya dengan Departemen Pertahanan pada proyek-proyek tertentu, tergolong teknologi penargetan pesawat tanpa awak. Keputusan tersebut membuat perwira tinggi militer Amerika memanggil perusahaan-perusahaan, tergolong Google, yang berbisnis dengan China.

“Sebagai pemimpin, kami menonton dengan sarat keprihatinan saat mitra industri yang bekerja di China memahami bahwa ada guna tidak langsung―mungkin tidak langsung bukan sebutan yang sesuai untuk itu―itu lebih merupakan guna langsung untuk orang China militer, “Jenderal Joseph Dunford, ketua Kepala Staf Gabungan, mengatakan untuk Kongres pada bulan Maret.

Beberapa hari setelah pengakuan itu, Trump mengkritik Google di Twitter. Tak lama, CEO perusahaan tersebut mendatangi Trump di Gedung Putih guna meyakinkan Trump bahwa Google berkomitmen guna bekerja dengan Pentagon dan bukan militer China.


PENGARUH OPERASI CHINA

Operasi pengaruh China yang terkoordinasi memakai taktik laksana propaganda, penipuan, ancaman, dan paksaan, serta opini publik dan “perang” hukum untuk mengolah opini dunia.

“Landasan strategi China tergolong menarik untuk warga negara China perantauan atau penduduk negara etnis Tionghoa dari negara lain guna memajukan destinasi Partai melewati kekuatan lunak,” kata laporan itu. “China pun terkadang memakai paksaan atau eksploitasi untuk memanipulasi penduduk China di luar negeri untuk mengerjakan operasi pengaruh atas nama China, seperti menakut-nakuti etnis Uighur yang bermukim di Amerika Serikat dengan memenjarakan anggota family mereka.”

Berdasarkan keterangan dari laporan itu, pengaruh operasi dilaksanakan di lembaga ahli, akademisi, dan media pemerintah dengan China pun mengandalkan kelompok-kelompok ini guna menyebarkan pesan sokongan untuk kepentingan keamanannya.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.