Header Ads

Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Transportasi

Perkembangan Motor Listrik Harus Prioritaskan Keselamatan

Faktor Keselamatan Sepeda Motor Listrik Harus Jadi Prioritas

Penggunaan sepeda motor listrik sebagai transportasi dalam rangka menunjang mobilitas orang, merasakan tren penambahan belakangan ini. Di samping hemat, kendaraan roda dua tersebut pun ramah lingkungan.

Kendati demikian, tetap butuh antisipasi kerawanan berhubungan kecelakaan sebab setiap kendaraan di jalan mempunyai konsekuensi masalah kecelakaan, sehingga, hal standar paling tidak keselamatan mesti menjadi prioritas dan diacuhkan dengan serius.

Pemerhati Transportasi Budiyanto mengatakan, seiring dengan pertumbuhan teknologi sarana transportasi dalam rangka menunjang mobilitas orang, sepeda motor listrik memang hadir sebagai gejala baru yang jumlahnya merasakan peningkatan.

"Perkembangan ini saya kira lumayan bagus dan perlu diserahkan apresiasi untuk pencetusnya sebab pemakaian sepeda motor dengan penggerak listrik, paling tidak masalah polusi udara dapat kita kurangi, khususnya di kota-kota besar laksana Jakarta," ujar Budiyanto untuk kepada Beritasatu.com, Kamis (2/5).

Dikatakan Budiyanto, kendati demikian butuh diantisipasi bersangkutan hal keselamatan. Sebab, masing-masing kendaraan yang beroperasi di jalan dapat merasakan kecelakaan.

"Faktor standar paling tidak keselamatan mesti menjadi prioritas atau diacuhkan dengan serius, tergolong dari aspek yuridisnya," ungkap Budiyanto.

Menyoal aspek yuridis, Budiyanto mengatakan, mengacu pada perudang-undangan yang berlaku, masing-masing kendaraan bermotor yang beroperasi di jalan mesti teregistrasi. Kemudian, pengendaranya mesti mempunyai Surat Izin Mengemudi (SIM) sebagai bukti kompetensi bahwa yang terkaitsudah dapat mengendarai kendaraan bermotor dan paham aturan-aturan dasar tentang selesai lintas.

Selanjutnya, masing-masing pemakai jalan mesti berlaku tertib dan menangkal hal-hal yang bisa merintangi, membahayakan ketenteraman dan keselamatan kemudian lintas serta jalan atau yang bisa menimbulkan kehancuran jalan, laksana yang ditata Pasal 105 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009 mengenai Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

"Kemudian, masing-masing orang yang mengemudikan sepeda motor mesti berlaku lumrah dan penuh fokus (Pasal 106 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2009)," kata Budiyanto.

Sementara itu, sehubungan dengan registrasi dan identifikasi guna kendaraan bermotor dengan penggerak listrik mengacu pada dasar hukum Pasal 64 ayat 1 UU Nomor 22 Tahun 2009, yang tertulis bahwa masing-masing kendaraan bermotor mesti diregistrasi.

"Kemudian,dipertegas dalam PP 55 Tahun 2012 mengenai kendaraan, pada Pasal 6 melafalkan bahwa masing-masing kendaraan yang dioperasikan di jalan mesti mengisi persyaratan teknis, yang salah satunya terdiri atas susunan. Pada Pasal 7 huruf b menyatakan, yang dimaksud rangkaian dalam Pasal 6 salah satunya ialah motor penggerak. Selanjutnya, diperjelas dalam Pasal 12 ayat 1 bahwa motor penggerak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 huruf b meliputi: a. motor bakar, b. motor listrik, c. kombinasi motor bakar dan motor listrik," jelas Budiyanto.

Budiyanto mengungkapkan, mengacu pada undang-undang dan berorientasi pada hal keselamatan, butuh adanya sosialisasi dan program yang terarah serta terpadu dari stakeholder yang bertanggung jawab di bidang kemudian lintas dan angkutan jalan. Sehingga dengan adanya gejala perkembangan pemakaian sepeda motor listrik itu, kerawanan secara dini bisa diantisipasi.

"Semua ini dalam rangka menyerahkan kontribusi untuk membuat keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran kemudian lintas (kamseltibcar lantas)," tandasnya.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.