Header Ads

Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Bagi Remaja

4 Profesor Riset Telah Dikukuhkan Oleh Badan Litbangkes


Perkembangan Teknologi | Badan Litbangkes sukses mencetak empat profesor penelitian tahun ini. Gelar Profesor Riset dikukuhkan untuk para peneliti yang telah menjangkau jenjang tertinggi sebagai peneliti utama.

Badan Litbangkes Kukuhkan 4 Profesor Riset
Profesor Riset diharapkan berkontribusi untuk Badan Litbangkes. (Foto: Istimewa).

Empat profesor penelitian yang dikukuhkan Majelis Pengukuhan Profesor Riset hari ini merupakan:


1. Dr. dr. Laurentia Konadi Mihardja, MS., Sp. GK. (Kepakaran Bidang Epidemiologi dan Biostatistik).
2. Dr. dr. Julianty Pradono, MS (Kepakaran Bidang Epidemiologi dan Biostatistik); 
3. Dr. Astuti Lamid, MCN. (Kepakaran Bidang Makanan dan Gizi).
4. Dr. Dede Anwar Musadad, SKM., M.Kes. (Kepakaran Bidang Kesehatan Lingkungan).

Topik orasi Laurentia Konadi ialah Pencegahan Diabetes Melitus melewati Pengendalian Faktor Risiko Sejak Dini. Penelitian yang dilaksanakan Laurentia mengungkap Diabetes Melitus (DM) tipe 2 yang seringkali terjadi pada orang dewasa, kini sudah terjadi pada anak.


DM dengan komplikasi menambah kesakitan dan kematian, serta ongkos pengobatan tinggi yang memberatkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan. Prevalensi hal risiko DM laksana stunting, kegemukan, prediabetes dan gaya hidup tidak sehat lumayan tinggi pada anak dan remaja.

Perlu usaha meningkatkan pekerjaan program yang telah ada khususnya dalam bidang promotif dan preventif guna mengendalikan DM semenjak dini. Upaya yang dilakukan ialah dengan pembentukan karakter pribadi yang berperilaku hidup sehat mulai dari dalam keluarga, di sekolah dan di masyarakat.

Dengan bidang kepakaran yang sama dengan Laurentia, Julianty Pradono mengucapkan orasi mengenai Pengendalian Hipertensi Melalui Pencegahan Kegemukan. Julianty mengungkapkan bahwa hipertensi merupakan hal risiko Penyakit Tidak Menular yang membutuhkan ongkos pengobatan lebih banyak dari ongkos yang dikeluarkan ketika ini. Pencegahan kegemukan perlu dibuka sejak masa anak-anak dengan membetulkan perilaku tidak sehat dan pendekatan budaya.


Selanjutnya, dengan bidang kepakaran makanan dan gizi, Astuti Lamid mengucapkan temuannya mengenai Pengembangan Formula Ready To Use Theurapetic Food (RUTF) guna Penanganan Balita Wasting di Puskesmas dengan pemanfaatan bahan lokal laksana kacang hijau, kacang tanah dan tempe. Kandungan gizi RUTF lokal cocok dengan ajakan Unicef dan terbukti efektif menambah status gizi balita paling kurus. Temuan Astuti diinginkan dapat dikembangkan dan diadopsi dalam program intervensi gizi balita wasting yang terintegrasi dengan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga.

Dengan kepakaran kesehatan lingkungan, Dede Anwar Musadad mengucapkan orasi dengan topik Rekayasa Sosial dan Teknologi Tepat Guna Bagi Penyelesaian Masalah Sanitasi. Penelitian Anwar mengungkapkan penambahan kesadaran dan perilaku masyarakat menjadi kunci keberhasilan program kesehatan lingkungan. Bagi mewujudkannya perlu diluncurkan dan diterapkan pilihan teknologi tepat guna laksana penjernihan air sederhana, penciptaan ventilasi, jamban pasang surut, dan lain-lain.


Berdasarkan keterangan dari Anwar, disamping keperluan sanitasi dasar yang belum terpenuhi, anda dihadapkan pada masalah pemanasan global, masalah sampah plastik dan styrofoam, serta pemakaian bahan kimia yang tidak terkendali. Transformasi program kesehatan lingkungan memerlukan upaya akselerasi supaya dapat memburu kecepatan pertumbuhan masalah baru yang timbul.

Bertambahnya jumlah profesor penelitian bidang kesehatan diinginkan dapat menambah kontribusi Badan Litbangkes dalam memecahkan sekian banyak  tantangan dan masalah kesehatan laksana upaya penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi, penurunan prevalensi kelemahan gizi pada anak balita, pengendalian angka kesakitan dampak penyakit menular dan penyakit tidak menular, serta pencapaian imunisasi dasar lengkap.


Tantangan lainnya ialah disparitas kedudukan kesehatan dan kedudukan gizi antar wilayah, antar tingkat sosial ekonomi dan gender, penyediaan perkiraan publik guna kesehatan serta penambahan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada tingkat lokasi tinggal tangga.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.