Header Ads

Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Editing

Workshop Gender dan Anak Pada Era Industri 4.0 Dibutuhkan Guna Pembentukan Karakter


190620200943-psga-.jpg


Perkembangan Teknologi Editing | Anak yang saleh tidak dicetuskan secara alami, tetapi hadir dari hasil sebuah tuntunan dan pembinaan yang terarah dan terprogram. Oleh karena tersebut peran dan tanggung jawab orangtua dalam pola asuh anak sangat urgen untuk membina keluarga ideal.


Orangtua mempunyai peran yang sangat urgen dan tak tergantikan dalam perkembangan dan pertumbuhan anak, khususnya menghadapi era revolusi industri 4.0 (keempat) ketika teknologi permainan dengan sangat gampang diakses dan dimainkan oleh anak melewati gawai.

Demikian topik yang menyeruak dari workshop gender dan anak bertema "Keluarga Masa Depan Perspektif Islam" yang diadakan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA), Lembaga Penelitian dan Pengabdian untuk Masyarakat (LP2M) UIN SGD Bandung di Hotel Puri Khatulistiwa, Jatinangor, Sumedang, Kamis (20/06/2019).

Kegiatan menghadirkan dua pembicara, yaitu Mohamad Udin, S.Sos. (Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak, KPPPA) dan Ala'i Nadjib, M.A. (Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), diberikan panduan oleh moderator, Dr. Wahyudin Darmalaksana, M.Ag. (Kepala Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M UIN SGD Bandung).


Berdasarkan keterangan dari Udin, pola asuh merupakan teknik yang dipakai dalam usaha menolong anak guna tumbuh dan berkembang dengan merawat, menuntun dan mendidik, supaya anak menjangkau kemandiriannya.

"Pada dasarnya pola asuh ialah suatu sikap dan praktik yang dilaksanakan oleh orang meliputi teknik memberi santap pada anak, menyerahkan stimulasi, memberi kasih sayang supaya anak bisa tumbuh kembang dengan baik," jelasnya.

Udin menyarankan, di antara upaya yang mesti dilaksanakan orangtua saat melihat anaknya sudah kejangkitan permainan di gawau, maka segera mengadukannya ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) terdekat, sebab saat ini KPAI semenjak Januari 2018 sudah membuka layanan pengaduan untuk anak yang diperkirakan kecanduan gawai.


Fleksibel

Sementara Ala’i Nadjib mengatakan, revolusi industri keempat ini ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik, dan pertumbuhan neuroteknologi yang memungkinkan insan untuk lebih mengoptimalkan faedah otak. Ruang publik dan domestik barangkali tidak lagi menjadi hal urgen pada revolusi industri yang mengandalkan kecerdasan produksi ini.

"Inilah era yang dinamakan dengan era digital teknologi, insan satu sama beda saling terkoneksi, gampang berkomunikasi, fleksibel, cashless, dunia serbadaring," katanya.


Menurutnya, pada era digital ini tidak terdapat lagi sekat publik dan dalam negeri karena insan menjadi bebas menata dirinya dari keterikatan formal struktural. Pada era ini, lanjutnya, bakal ada disrupsi (perubahan) gejala kehidupan masyarakat. Perubahan dari konvensional mengarah ke yang digital., tergolong transaksi dan pasar.

"Era digital ini sebenarnya menciptakan perempuan lebih luwes mengatur waktunya. Jika dahulu ranah aktulisasi wanita tidak jarang kali dihubungkan dengan kesempatan terbit rumah, jarak menjadi batasan, maka era ini memungkinkan wanita bekerja dari rumah," ujarnya.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.