Header Ads

Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Gadget di Indonesia



Aplikasi Berbahaya Di Android


Aplikasi Berbahaya Menjadi Masalah Utama Android


Perkembangan Teknologi Gadget di Indonesia | Berdasarkan riset yang dilakukan dua tahun beruntun soal barisan kelemahan pada Android, dan ternyata urusan tersebut ialah banyaknya software berbahaya.

Melansir Tekno LIputan6.com yang mengutip Softpedia, urusan ini tak dapat dimungkiri walau Google telah mengerjakan berbagia urusan untuk menambah keamanan untuk pemakainya.


Tim peneliti dari Data61, unsur dari University of Sidney dan Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) menciptakan sistem analisis software canggih yang mengandalkan jaringan mempunyai nama convolutional guna memindai software dan menilai kesamaan, tergolong ikon aplikasi.

Aplikasi-aplikasi berbahaya, tergolong kloningan yang berupaya mengerjakan metode scam terhadap pemakai maupun perangkat, seringkali memakai ikon yang menyerupai software populer untuk menipu pemakai agar mau mengunduhnya.

Penelitian ini pun bergantung pada performa pemindaian anti-malware VirusTotal, termasuk pengecekan izin dan buku iklan pihak ketiga guna melihat software yang merusak perlengkapan yang dipasangi.


Terlalu Banyak Aplikasi Berbahaya

Hasil riset tersebut, dari satu juta software yang diperiksa, ada selama 50 ribu software yang menyertakan keserupaan dengan software populer di Play Store.

"Kami mengejar 2.040 pemalsuan potensial yang berisi malware dalam 49.608 software yang menunjukkan kesamaan tinggi dengan di antara dari 10 ribu software populer teratas di Google Play Store," kata riset tersebut.

Tidak melulu itu, kesebelasan peneliti pun menemukan 1.565 pemalsuan potensial yang meminta lima izin riskan tambahan dari software asli.

35 Persen Aplikasi Jahat Telah Dihapus

Kabar positifnya, 35 persen software yang ditandai sebagai software berbahaya tidak lagi terdapat di Google Play Store.


Kemungkinan urusan ini sebab Google sudah menghapus aplikasi-aplikasi itu setelah mengejar ancaman potensial. Namun 65 persen software berbahaya masih terdapat di toko aplikasi.

Untuk itu, pemakai butuh lebih hati-hati terhadap aplikasi-aplikasi yang ada, sebelum mengunduhnya.

Hal yang dapat Anda lakukan supaya tak terjebak di di antaranya ialah mengecek ikon, deskripsi, dan review software dari pemakai lain, sebelum mengunduh software tersebut.

Sumber: Tekno Liputan6.com

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.