Header Ads

Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Robotik

Hasil gambar untuk robot pekerja

Sebentar Lagi Robot Pekerjaan Akan Diambil Alih Oleh Robot

Perkembangan Teknologi Robotik | Hingga 20 juta kegiatan manufaktur akan hilang secara global dampak robot pada tahun 2030, suatu studi baru menemukan. Dan perpindahan kegiatan tidak akan merata di semua dunia, atau di dalam negara, menurut keterangan dari studi Oxford Economics, suatu perusahaan penelitian yang berbasis di Inggris, dilansir dari Asia One, Rabu (26/6/2019).

Wilayah berketerampilan rendah, yang ingin mempunyai ekonomi yang lebih lemah dan tingkat pengangguran yang telah tinggi, jauh lebih rentan terhadap kehilangan pekerjaan, katanya sesudah mensurvei tujuh negara tergolong Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Prancis, Jepang, Korea Selatan dan Australia.


Sejak 2000, selama 1,7 juta kegiatan manufaktur sudah hilang sebab robot, tergolong sekitar 400.000 di Eropa, 260.000 di AS, dan 550.000 di Cina.

Studi ini menulis bahwa laju robot menggantikan kegiatan telah bertambah terus, dengan stok global robot industri bertambah lebih dari dua kali lipat semenjak 2010.

"Revolusi robotika semakin cepat, seiring dengan peradaban teknologi yang semakin cepat. Hasilnya akan mengolah apa yang dapat dilaksanakan robot selama sejumlah dekade mendatang -dan keterampilan mereka untuk memungut alih tugas yang dilaksanakan manusia sekarang," kata James Lambert, di antara pemimpin penulis riset dan Direktur Konsultasi Ekonomi guna Asia di Oxford Economics.

Para penulis meneliti bahwa pusat gravitasi di stok robot dunia sudah bergeser ke produsen baru, khususnya di Cina, Korea Selatan dan Taiwan tetapi pun ke India, Brasil dan Polandia.

Sekitar satu dari tiga robot di semua dunia kini dipasang di Cina, yang menyumbang selama seperlima dari total stok robot dunia, naik dari melulu 0,1 persen pada tahun 2000.


Pada tahun 2030, Cina bisa mempunyai sebanyak 14 juta robot industri yang digunakan, mengerdilkan saldo stok dunia mereka.

Sebaliknya, inventarisasi robot campuran AS dan Eropa sudah jatuh di bawah 40 persen dari pangsa global dari puncaknya mendekati 50 persen pada 2009.

Dan Jepang - sebelumnya pemimpin dunia dalam otomatisasi - telah meminimalisir stok robot aktifnya selama 100.000 unit semenjak tahun 2000.

Studi ini meramalkan bahwa pemakaian robot dalam industri jasa akan meningkat tajam dalam lima tahun ke depan, didorong oleh peradaban kecerdasan produksi (AI), pembelajaran mesin, dan teknik.

Ini khususnya akan memprovokasi sektor logistik namun harus menyebar ke industri lain tergolong perawatan kesehatan, ritel, perhotelan dan transportasi, katanya.

"Implikasinya paling besar. Kami akan menyaksikan peningkatan signifikan terhadap produktivitas dan perkembangan ekonomi dan sejumlah jenis kegiatan baru yang bahkan belum bisa kami ramalkan," kata Mr Lambert.

Laporan tersebut meramalkan bahwa eskalasi 30 persen dalam instalasi robot di atas estimasi dasar guna 2030 akan meningkatkan US $ 4,9 triliun (S $ 6,6 triliun) ke ekonomi global tahun itu, setara dengan ekonomi yang lebih banyak dari ukuran yang diproyeksikan Jerman pada tahun itu.


"Tetapi pada ketika yang sama model bisnis akan terganggu atau terbalik dan jutaan pekerja yang terdapat akan dialihkan - dan dampaknya akan memprovokasi ekonomi dan distrik yang lebih rendah keterampilannya dan lebih miskin," katanya mengingatkan.

"Pemerintah, pembuat kebijakan, bisnis, dan pribadi perlu beranggapan keras kini tentang gelombang evolusi yang didorong oleh teknologi ini dan kita seluruh perlu mempersiapkan diri guna apa yang menghasilkan revolusi industri baru," tambahnya.

Ketika ditanya tentang akibat robot di Singapura, Mr Lambert menuliskan pihaknya berada pada posisi yang baik guna mendapatkan deviden dari robotika generasi baru ini sebab mempunyai infrastruktur yang canggih dan bisa ditingkatkan, kerangka kerja regulasi yang mendukung, dan lingkungan investasi yang kuat.

"Para pekerja di Singapura yang tergusur oleh teknologi mesti menyesuaikan kemampuan mereka dengan tuntutan ekonomi yang berkembang di masa depan, namun pemerintah telah merealisasikan skema guna membantu mengajar kembali semua pekerja yang tergusur oleh teknologi," katanya.

"Singapura pun mempunyai populasi yang menua (lebih dari kebanyakan) dan memberi batas migrasi ke dalam, jadi robot barangkali sangat menolong dalam mengawal pertumbuhan ekonomi," kata Lambert.

Baca juga : Telkomsel mengklarifikasi kerja sama jaringan 5G dengan Ericsson

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.