Header Ads

Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Udara

Hasil gambar untuk pesawat tanpa awak
Foto: Pesawat tanpa awak




Kesepakatan Kerjasama Indonesia dan AS Soal Pesawat Terbang Tanpa Awak

Perkembangan Teknologi | Pemerintah Indonesia melewati Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan dengan Pemerintah Amerika Serikat berkolaborasi dalam transfer pengetahuan dan teknologi berhubungan pesawat tanpa awak (Unmanned Aircraft System/UAS).

Kerja sama itu adalahbagian dari kelanjutan program U.S Indonesia Aviation Working Group bertema 'Strengthening Aviation By Incorporating Innovative Technology In Indonesia'.

"Saya mengucapkan terima kasih untuk pemerintah AS, atas kerja samanya dengan pemerintah Indonesia melewati Aviation Working Group yang telah diadakan sejak 2016. Kami paling menghargai kerja sama erat yang di bina antara kedua negara," kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Polana B Pramesti dilansir Antara, Rabu (15/5).

Baca juga : Nadiem Makarim Berhasil Dapat Penghargaan Bergengsi Nikkei Asia Prize 2019

Di samping itu, Polana menyampaikan bahwa ketika ini teknologi berkembang paling cepat, salah satunya pemakaian drone atau Unmanned Aircraft System (UAS) pesawat tanpa awak.

Penerbangan tanpa awak menawarkan sekian banyak  kemampuan dan kecanggihan, sampai-sampai industri itu mempunyai potensi ekonomi yang menjanjikan.

"Ini adalahtantangan untuk regulator, dan memerlukan waktu eksklusif untuk menata manajemen kemudian lintas udara. Tantangan umum terletak pada mengintegrasikan pesawat berawak dan tak berawak dengan aman dan tepat guna terutama dalam pemakaian wilayah udara yang sama," katanya.

Dengan adanya Aviation Working Group, Polana bercita-cita kegiatan ini dapat memberikan sebanyak solusi dari kendala yang dihadapi penerbangan ketika ini seperti ketentuan penerbangan berhubungan kedua negara, pembaruan teknologi UAS serta sharing berhubungan bagaimana Pemerintah AS dalam penanganan operasi UAS, serta membicarakan kesiapan infrastruktur Indonesia guna menghadapi pertumbuhan UAS beserta risiko dan pengawasannya.

Baca juga : Lonjakan Nilai Bitcoin Hingga 20%

"Seperti yang anda ketahui, bahwa pengoperasian UAS telah menyerahkan sejumlah guna di sekian banyak  sektor, oleh karena tersebut Ditjen Hubud perlu menyokong pengoperasian UAS yang berkelanjutan namun harus cocok dengan aturan tanpa mengesampingkan keselamatan dan keamanan," katanya.

Duta besar AS guna Indonesia Joseph R. Donovan menuliskan working group yang dilakukan bertujuan guna memperkuat kerja sama antara US Indonesia terutama di bidang aviasi.

"Fokus kali ini ialah infrastruktur transportasi terutama penerbangan. Industri penerbangan punya peran urgen dalam pembangunan Indonesia. Mengingat situasi geografi Indonesia, yang mempunyai ribuan pulau, maka industri penerbangan lumayan diandalkan. Sama laksana sektor ekonomi lainnya, industri penerbangan mesti terus berkembang sejalan dengan teknologi. Salah satunya ialah New Aviation System (sistem aviasi terbaru), yaitu Unmnaned Aircraft System atau pesawat tanpa awak. Kami, AS menyaksikan teknologi UAS bakal memberikan akibat signifikan pada sektor penerbangan," katanya.

Baca juga : Peluang VR, AR, dan MR Gantikan Seluler di Masa Depan

Joseph menambahkan, urusan ini tak terlepas dari keterampilan dan keunggulan UAS yang dapat mengirimkan pertolongan dalam masa-masa cepat, dapat dipakai dalam menolong perkembangan ekonomi digital dan e-dagang serta menambah realibilitas pembangunan ekonomi dan infrastruktur.

UAS atau pesawat tanpa awak, mustahil dipungkiri, sangat tepat guna dan efektif menjangkau wilayah atau kawasan-kawasan terasing yang memang cocok dengan situasi geografis Indonesia.

"Kami menyaksikan teknologi UAS dapat berkembang dan punya potensi guna mendorong industri penerbangan di Indonesia. Namun, pertumbuhan industri ini tak terlepas dari regulasi dan strategi yang diterapkan oleh pemangku kepandaian yang menyokong pengembangan teknologi ini," katanya.

Dalam urusan ini, lanjut dia erat kaitannya dengan regulator ataupun pemangku kepentingan bidang penerbangan, ketika ini Amerika tertarik dan berkomitmen guna mendorong industri penerbangan di Indonesia.

Hal ini diperlihatkan dengan adanya sokongan dari perusahaan swasta, pemerintah, pemangku kepentingan laksana Federal Aviation Administration, TSA dan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan AS.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.