Header Ads

Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi 10 Tahun Kedepan



Perkembangan Teknologi | Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I/2019 menjangkau 5,07% (yoy), melulu naik tipis dikomparasikan dengan kuartal II/2018 yang sebesar 5,06%. Stagnanya pertumbuhan diakibatkan dua hal utama. Pertama, ketidakpastian global yang masih terus berjalan. Kedua, mesin pertumbuhan, dalam urusan ini sektor industri, yang merasakan perlambatan.

Berdasarkan lapangan usaha, sumber utama perkembangan ekonomi Indonesia masih berasal dari sektor industri pengolahan (0,83%). Namun industri ini malah mengalami perlambatan. Pada kuartal I/2019, perkembangan industri pengolahan menjangkau 3,86%, tidak banyak melambat dikomparasikan kuartal yang sama 2018 yang tumbuh 4,5%.

Saat ini sektor industri pengolahan melulu menyumbangkan 20% dari total produk domestic bruto (PDB) nasional, turun jauh dikomparasikan dengan satu dasawarsa lalu (di atas 25%). Oleh karena itu, Indonesia membutuhkan mesin perkembangan baru, dimana sektor jasa bisa menjadi alternatifnya.


Selama 200 tahun terakhir sektor industri manufaktur di anggap sebagai pendorong utama perkembangan ekonomi. Berbalik dengan itu, jasa tidak jarang diasosiasikan sebagai sektor yang tidak bisa diperdagangkan (non-tradable), produktivitas rendah, dan tidak banyak inovasi (Ghani & O’Connel, 2014). Namun, sekitar 10 tahun terakhir terjadi pergeseran besar. Sektor jasa ketika ini di anggap mampu menjadi mesin pendorong perkembangan ekonomi.

Saat ini sektor jasa berkontribusi 65% terhadap PDB dunia dan menyerap 50,7% tenaga kerja secara global. Hal ini pun ditopang dengan semakin besarnya investasi pada sektor jasa. Sebanyak 60% dari foreign direct investment (FDI) dunia ketika ini berasal dari sektor jasa. Perdagangan jasa dunia pun terus meningkat.

Perdagangan jasa makin menjadi primadona. Pada 2017, nilai ekspor jasa dunia menjangkau US$5,4 triliun atau 23% dari total ekspor (UNCTAD, 2019). Satu dasawarsa terakhir ekspor jasa tumbuh 35%, jauh lebih tinggi dikomparasikan dengan perkembangan ekspor barang (9,25%).

Pertumbuhan pesat pun terjadi di negara-negara berkembang. Pada periode 2005-2013, ekspor jasa negara-negara Asia tumbuh 11%, lebih tinggi dari ekspor barang yang tumbuh 10% (WTO, 2014). Negara-negara Asia mulai hadir sebagai negara penekspor jasa, dimana kontribusi ekspor jasa negara Asia bertambah dari 22% (2005) menjadi 26% (2013).


Terdapat tiga pendorong pertumbuhan sektor jasa sebagai mesin perkembangan ekonomi. Pertama, sektor jasa bukan lagi bergantung pada permintaan domestik. Dengan semakin majunya teknologi informasi, internet dan digitilasasi, menciptakan semakin tidak sedikit sektor jasa yang dapat diperdagangkan.

Kedua, ongkos memperdagangkan jasa semakin turun dengan adanya teknologi digital. Sebagai ilustrasi, 20 tahun yang lalu bilamana ingin memperdagangkan jasa edukasi antarnegara, produsen jasa mesti membina lembaga edukasi di negara yang dituju. Mendirikan lembaga pendidikan, yang dengan kata lain membangun sarana dan prasarana jasmani tentu memakan ongkos yang tinggi, akhirnya menciptakan perdagangan jasa edukasi menjadi relatif rendah.

Saat ini dengan berkembangnya teknologi digital, jasa edukasi dapat didigitalisasi dan diperdagangkan antarnegara tanpa perlu eksodus produsen. Contohnya, semakin banyaknya software pendidikan laksana kursus online.

Ketiga, sektor jasa semakin produktif dan tidak terkonsentrasi pada sektor informal saja. Perkembangan teknologi informasi mendorong penambahan produktifitas sektor jasa. Lebih jauh, dengan semakin terintegrasinya sektor jasa dalam bidang manufaktur menciptakan sektor jasa semakin tidak sedikit masuk ke sektor formal.


Kajian yang dilaksanakan Indonesia Services Dialogue (2018) mengindikasikan bahwa sektor jasa mempunyai kebersangkutanan ke depan (forward linkage) dan kebersangkutanan ke belakang (backward linkage) yang relatif besar. Nilai indeks kebersangkutanan ke belakang sektor jasa berkisar 1,42--2,06, dimana subsektor jasa yang mempunyai angka tertinggi ialah transportasi kereta api, restoran dan hotel, dan konstruksi. Sedangkan kebersangkutanan ke depan berkisar 1,09--2,22, dimana sub-sektor jasa yang mempunyai nilai tertinggi ialah lembaga perantara keuangan, listrik-gas-air dan jasa berhubungan transportasi (Indonesia Services Dialogue, 2018).

Saat ini sektor jasa masih ditopang oleh pertumbuhan sektor jasa perniagaan yang relatif tidak cukup produktif. Perkembangan sektor perniagaan ini memang paling pesat, dari melulu 2,72% dari PDB (1990) menjadi 13,21% (2018). Namun, sektor jasa beda yang relatif lebih produktif, laksana sektor jasa komunikasi pun berkembang pesat. Meningkat dari 0,94% terhadap PDB (1990) menjadi 5,17% (2018). Lebih lanjut, pada sektor jasa komunikasi selama sejumlah tahun terakhir (2011-2018) tumbuh relatif tinggi, yakni pada rentang 8,34%-14,37% per tahun. Perkembangan ini diduga semakin pesat dengan desakan teknologi digital.

Data kuartal I/2019 menunjukkan, sektor jasa perusahaan adalahsektor yang tumbuh sangat tinggi, yakni 10% (yoy). Setidaknya, ada tiga tahapan utama yang dapat dilaksanakan untuk terus mendorong perkembangan ini. Pertama, membetulkan sistem sekolah vokasi dan seritifikasi tenaga kerja sektor jasa. SDM ialah dasar dari sektor jasa, sampai-sampai kualitasnya mesti ditingkatkan.


Kedua, mendorong investasi baru dalam sektor jasa. Berdasarkan analisis yang dilakukan, mayoritas sektor jasa mengalami keunggulan permintaan (Presisi, 2015). Semakin tinggi tingkat penghasilan masyarakat dan tumbuhnya masyarakat ruang belajar menengah urban, menciptakan permintaan bakal jasa dengan kualitas yang lebih tinggi makin besar pula.

Tak seluruh permintaan jasa itu dapat diisi oleh buatan dalam negeri, baik dari sisi kuantitas maupun kualitasnya. Untuk tersebut perlu didorong penanaman modal asing baru untuk memenuhi keperluan tersebut.

Selanjutnya, pemerintah butuh merevisi susunan negatif investasi (DNI). Selama delapan tahun terakhir, jumlah sektor yang tergolong dalam DNI meningkat nyaris dua kali lipat, dari 298 bidang usaha (2010) menjadi 515 (2018). Hal tersebut pasti menghambat arus investasi baru sektor jasa.

Ketiga, pemerintah butuh mengoptimalkan penerapan PPN dengan tarif 0% atas ekspor jasa. Kebijakan berpotensi mendorong perkembangan ekonomi, menambah daya saing tenaga kerja, membuat lapangan kerja yang lebih luas, dan menambah produktivitas ekonomi .

Pada kesudahannya upaya itu akan berperan menambah penerimaan pajak dalam jangka panjang. Di samping itu, perkembangan ekonomi bakal didukung oleh meningkatnya investasi dari dalam dan luar negeri guna sektor jasa yang berorientasi ekspor di Indonesia.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.