Header Ads

Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Listrik di Indonesia


Perkembangan Teknologi | Pengadopsian energi terbarukan guna pembangkit listrik di Indonesia dinilai masih jauh tertinggal dikomparasikan negara lain. Pengadopsiannya pun masih di bawah potensi sejati yang dipunyai negara ini. Demikian menurut keterangan dari laporan tahun 2019, Indonesia’s Energy Transition: A Case for Action, yang diciptakan oleh perusahaan konsultan manajemen global A.T. Kearney, dalam kemitraannya dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO).

Perbaikan kebijakan dibutuhkan untuk mempercepat transisi energi sampai-sampai dapat menjangkau target Energi Terbarukan pada tahun 2025 dan evolusi iklim pada tahun 2030. Meningkatkan pemakaian energi terbarukan terhadap energi terpadu memungkinkan Indonesia untuk menaikkan stabilitas fiskal jangka panjang. Diharapkan, pemanfaatan jangka pendek energi murah laksana batu bara tidak mengorbankan energi ramah lingkungan Indonesia.


Secara global, Transisi Energi telah selaras dengan teknologi pembangkit listrik terpadu yang ingin bergerak mengarah ke energi terbarukan. Lebih urgen lagi, tren selama sejumlah tahun terakhir ini mengindikasikan adanya peningkatan pemakaian matahari dan angin yang berpengaruh untuk generasi selanjutnya, menandakan semakin berkembangnya pemakaian kedua teknologi tersebut.

Indonesia mengawali perjalanan Transisi Energi pada tahun 2014, selaras dengan Kebijakan Energi Nasional, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Indonesia memutuskan target sebesar 23 persen hasil energi negara mesti berasal dari Energi Baru dan Terbarukan pada 2025. Di samping itu, Indonesia sudah sepakat untuk meminimalisir emisi gas lokasi tinggal kaca sebesar 29 persen pada tahun 2030.

Namun, pada 2018 energi terbarukan melulu menyumbang 12 persen dari total listrik yang dihasilkan. Faktanya, estimasi pasar menurut proyek-proyek yang ketika ini sedang dalam pengawasan mengindikasikan bahwa pemakaian energi terbarukan bisa jadi akan tetap sebesar 12 persen pada tahun 2025–jauh dari target 23 persen. Berdasarkan keterangan dari laporan Renewable Energy Maturity Index, Indonesia sedang di peringkat keempat dari 50 negara penghasil listrik tertinggi.


“Sementara tidak sedikit negara bergerak cepat mengerjakan pengadopsian teknologi energi terbarukan guna pembangkit listrik, pertumbuhan di Indonesia dinilai masih lambat. Namun, negara ini mempunyai potensi yang signifikan dalam merealisasikan energi terbarukan, tergolong memanfaatkan matahari dan angin. Oleh karenanya, Indonesia berkesempatan untuk dapat memburu ketinggalan dalam sejumlah tahun ke depan andai kebijakan tersebut diserahkan perhatian khusus," kata Alessandro Gazzini, Mitra A.T. Kearney dan rekan pengarang laporan ini.

"Biaya energi terbarukan turun dengan cepat sampai-sampai menjembatani kesenjangan sumber-sumber pembangkit listrik konvensional. Ada kesempatan besar guna teknologi surya dan angin di Indonesia, di antara contohnya ialah menggunakan energi terbarukan sebagai pengganti diesel guna program 2.500 desa terpencil," kata Sandeep Biswas, Mitra A.T. Kearney dan rekan pengarang laporan ini.

Laporan Kearney ini mengidentifikasi bahwa terdapat empat hambatan utama untuk Indonesia untuk menambah generasi pembangkit listrik memakai energi terbarukan, yaitu tantangan teknologi, kepandaian yang tidak menguntungkan dan ketentuan yang tidak pasti, rendahnya ketersediaan pembiayaan swasta, serta potensi konflik kepentingan peran PLN.


Beberapa perbaikan kebijakan dibutuhkan untuk menanggulangi hambatan pengembangan energi terbarukan, supaya secara radikal mempercepat rencana implementasi untuk mengisi target Indonesia tahun 2025. Indonesia memerlukan capex (capital expenditure) atau modal melakukan pembelian barang sebesar 8 milyar dollar masing-masing tahun untuk menjangkau target. Di samping itu, Indonesia sendiri sudah menandatangani perjanjian internasional untuk meminimalisir emisi lokasi tinggal kaca.

“Hal terpenting, pemerintah butuh menerapkan kepandaian yang menguntungkan dan ketentuan yang pasti supaya energi terbarukan unik minat investasi swasta,” kata Alessandro Gazzi.

“Sebagai permulaan, butuh adanya evaluasi kembali tentang kelayakan batas tarif yang disepakati sebelumnya menurut ketentuan ESDM 12/2017, guna meyakinkan bahwa pengembangan energi terbarukan unik minat PLN dan pun para investor,” ujar Alessandro Gazzi, menambahkan.


Penting pun untuk menyeimbangkan pulang subsidi bahan bakar fosil terhadap energi terbarukan sebab akan menurunkan harga daya yang didapatkan oleh teknologi energi terbarukan, yang menuju lebih besarnya pemanfaatan dan nantinya akan menolong mengurangi ongkos selanjutnya.

Di samping itu, pemerintah mesti meninjau kembali sejumlah persyaratan konten lokal yang ketat dan merealisasikan proses persetujuan yang lebih transparan dan efisien. Persyaratan konten lokal ketika ini menghambat terciptanya lingkungan yang pantas untuk pengembangan energi terbarukan. Persyaratan itu dapat dipertimbangkan sesudah pasar energi terbarukan menjangkau tingkat kesiapan dan saat ada insentif investasi yang substansial.

“Sebagai rangkuman, ada kesempatan luar biasa untuk Indonesia untuk membetulkan jalurnya. Tetapi, upaya bareng antara pemerintah, ESDM, dan PLN bakal menjadi kuncinya. Diperlukan intervensi pemerintah, mulai dari memberi insentif untuk PLN untuk konsentrasi pada pengembangan energi terbarukan dan mempercayakan pemakaian teknologi berbiaya rendah guna proyek-proyek off-grid,” kata Sayak Datta, Prinsipal A.T Kearney dan pengarang laporan ini.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.