Header Ads

Perkembangan Teknologi | Perkembangan Teknologi Revolusi 4.0

Di Era Revolusi Industri 4.0 Pengajian Virtual Makin Diminati Oleh Masyarakat Indonesia



foto: suaramerdeka.com


Perkembangan Teknologi Revolusi 4.0 | Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya Prof Dr Moh Ali Aziz mengatakan, pola keagamaan di era Revolusi Industri 4,0 didominasi oleh pengaruh media virtual. Di media ini, ragam pesan keagamaan tersuguhkan. Para netizen dapat mengaksesnya dengan gampang dalam situasi apapun. Mereka tidak terbelenggu pada ruang dan masa-masa yang ditentukan. Pengajian di Youtube dapat disaksikan di ruang individu atau kedai kopi sambil melakukan kegiatan yang lain. 

‘’Pengajian virtual berbasis internet lebih digemari umat ketimbang mesti ikut pengajian umum berlama-lama,’’ tegasnya dalam makalah ‘’Dakwah dan Revitalisasi Lokal Wisdom di Era Revolusi Industri’’ Annual Conference on Dakwah and Communication II (ACDC) di Hotel Harris Jalan Ki Mangunsarkoro Semarang, kemarin.


Di samping Prof Dr Moh Ali Aziz, tampil sebagai penceramah Ir Subedjo SPMA PhD pakar Penyuluhan dan Komunikasi UGM dan Dr H Muhammad Sulthon MAg dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo Semarang.

Wakil Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Dr Najahan Musyaffa menjelaskan, konferensi tersebut dibuntuti para Dekan Fakultas Dakwah se-Indonesia.

Berdasarkan keterangan dari Ali Aziz, sekian banyak  tulisan pesan agama dari ragam ragam sumber juga dapat dibaca dan didiskusikan dengan sesama netizen. Begitu pula, video pengajian yang disiarkan langsung maupun rekaman dapat disaksikan dalam situasi apapun.

Pengajian dakwah virtual dikatakan kepada massa dunia maya. Di antara ciri massa ialah tidak adanya pengenalan salah satu para netizen. Mereka tidak berada dalam sebuah tempat tertentu seperti kumpulan nirmassa, tetapi di sekian banyak  tempat yang saling berjauhan.


‘’Mereka dipertemukan dalam sebuah isu atau topik tertentu untuk mengerjakan dialog secara terbuka. Karena itu, mereka menyusun komunitas tersendiri. Waktu juga ditentukan sendiri oleh massa netizen, sebab mereka dapat mengakses kapanpun,’’ katanya.

Ciri massa yang lain ialah jumlah netizen yang mengekor pengajian virtual dapat disaksikan dari jumlah pengunjung. Partisipasi mereka bisa terdeteksi melewati jumlah “like”, “subscribe”, atau “comment”.

Perbedaan

Hal ini bertolak belakang dengan media massa cetak maupun elektronik yang susah mendeteksi jumlah massa.

Perbedaan beda antara media massa konvensional dengan media virtual terletak pada arsip. Demikian ini tidak bertolak belakang dengan media massa cetak, melulu saja media virtual mempunyai waktu yang lebih lama yang dapat diakses pulang oleh siapapun, dimanapun, dan kapanpun. Jadi, media virtual berisi tidak sedikit kelebihan dikomparasikan media massa cetak maupun elektronik. 

Massa pengajian virtual semakin tidak sedikit tatkala pengajian ini disebarkan pada akun yang lain. Penyebaran pesan dakwah dapat dikatakan secara utuh maupun cuplikan unsur tertentu. Pesan keagamaan juga dapat ditambah maupun dikurangi. Perubahan pesan pengajian virtual bisa menghasilkan persepsi yang berbeda. Hal ini tergantung pada evolusi yang ditampilkan. Dalam urusan ini, kesalahpahaman atas pesan dakwah virtual dapat muncul. Kesalahan persepsi ini susah dipulihkan meskipun hasil digital forensik sudah dikemukakan. Bagi mereduksi kesalahpahaman tersebut, ruang dialog dimulai secara vulgar, sehingga setiap netizen saling menyerahkan umpan komunikasi.


Di unsur inilah menurut keterangan dari Dr H Muh Sulthon biasanya terjadi pembiasan doktrin agama. Mereka tidak belajar agama untuk kiai atau ulama tetapi lumayan melalui Youtube, Whatshap, Instagram, Facebook dan lain-lain. ‘’Semaju apapun, setinggi apapun peradaban teknologi informasi komunikasi, mengaji agama diperlukan guru atau kiai,’’ katanya.

Pakar Penyuluhan dan Aplikasi UGM Ir Subejo berpendapat, inginkan tidak mau semua pelaku dakwah maupun penyuluh mesti menyesuaikan dengan pertumbuhan teknologi informasi.

Aplikasi berhubungan pembangunan agama bisa dikembangkan oleh tiga aktor pembangunan yakni pemerintah, pasar/swasta dan organisiasi serta sosial/voluntir (komunitas).

Aplikasi-aplikasi kontemporer mesti diciptakan misalnya software baca Alquran, software belajar agama, software sedekah, software zakat, software pembangunan sarana ibadah, software dialog agama software sistem informasi haji dan lain-lain.

Seluruh peserta konferensi mendapat peluang mengikuti city tour yaitu mendatangi Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Kelenteng Sam Poo Kong peninggalan Laksamana Zheng Ho, Taman Maerokoco, Lawang Sewu dan pusat oleh-oleh Pandanaran.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.